rahasiaprimbon.id – Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, menyimpan cerita yang terus menarik perhatian masyarakat. Banyak orang mengenal kawasan ini karena suasana spiritual, tradisi ziarah, dan berbagai kisah turun-temurun.
Namun, popularitas Gunung Kawi juga melahirkan stigma lain. Sebagian masyarakat langsung menghubungkan kawasan ini dengan pesugihan, tumbal, dan ritual untuk mencari kekayaan.
Pada 2026, pembicaraan mengenai Gunung Kawi kembali ramai di media sosial. Sejumlah konten mengangkat aktivitas ritual dan mitos pesugihan di kawasan tersebut.
Perdebatan itu membuat banyak orang kembali mencari tahu sejarah Gunung Kawi. Mereka juga mulai mempertanyakan mana tradisi budaya dan mana cerita yang berkembang dari mulut ke mulut.
Pesarean Gunung Kawi Menjadi Pusat Ziarah
Salah satu tempat yang paling terkenal di kawasan Gunung Kawi ialah Pesarean Gunung Kawi.
Kompleks tersebut memiliki makam dua tokoh yang masyarakat hormati, yaitu Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Kiai Zakaria II yang lebih populer sebagai Eyang Djoego, serta Raden Mas Iman Soedjono.
Banyak peziarah datang ke kawasan itu untuk berdoa dan mengenang kedua tokoh tersebut.
Tradisi ziarah biasanya semakin ramai ketika masyarakat memasuki tanggal 1 Muharam atau 1 Suro. Warga juga menggelar kirab serta tabur bunga sebagai bagian dari kegiatan budaya.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa Gunung Kawi memiliki dimensi yang lebih luas daripada cerita pesugihan.
Kawasan ini juga menjadi ruang pertemuan antara sejarah, keyakinan masyarakat, budaya Jawa, serta aktivitas wisata religi.
Mengapa Gunung Kawi Identik dengan Pesugihan?
Cerita tentang pesugihan telah melekat pada nama Gunung Kawi selama bertahun-tahun.
Sebagian orang percaya bahwa seseorang dapat mencari kekayaan melalui ritual tertentu di kawasan tersebut. Cerita semacam itu kemudian berkembang melalui kisah lisan, tayangan hiburan, hingga konten media sosial.
Namun, masyarakat perlu membedakan cerita populer dengan fakta sejarah.
Tidak semua orang yang datang ke Gunung Kawi memiliki tujuan mencari kekayaan. Banyak pengunjung datang untuk berziarah, berdoa, mengenal sejarah, atau mengikuti tradisi keluarga.
Pada 2026, perdebatan mengenai stigma ini kembali muncul setelah sejumlah pembuat konten menelusuri lokasi yang selama ini masyarakat kaitkan dengan pesugihan.
Penelusuran tersebut juga mendorong pengelola dan tokoh setempat untuk menegaskan pentingnya membedakan tradisi budaya dengan praktik penipuan yang memakai unsur mistis.
Misteri Pohon Dewandaru yang Melegenda
Selain makam para tokoh, masyarakat juga sering membicarakan pohon Dewandaru ketika membahas Gunung Kawi.
Pohon ini memiliki posisi khusus dalam berbagai cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Sebagian pengunjung percaya bahwa bagian pohon yang jatuh secara alami dapat membawa keberuntungan.
Cerita tentang daun, ranting, atau buah Dewandaru kemudian memperkuat aura misterius kawasan Gunung Kawi.
Dalam kepercayaan tradisional Jawa, masyarakat sering menghubungkan benda alam dengan simbol tertentu. Pohon tua, mata air, gunung, serta batu dapat memperoleh makna budaya atau spiritual.
Namun, masyarakat sebaiknya memahami mitos Dewandaru sebagai bagian dari tradisi dan cerita rakyat.
Tidak ada dasar ilmiah yang membuktikan bahwa ranting atau buah tertentu dapat menjamin kekayaan seseorang.
Justru nilai menariknya muncul dari cara masyarakat menjaga cerita tersebut dari generasi ke generasi.
Ritual dan Tradisi Memiliki Makna yang Beragam
Orang sering memakai kata ritual untuk menggambarkan berbagai kegiatan di Gunung Kawi.
Padahal, setiap pengunjung dapat memiliki maksud yang berbeda.
Sebagian peziarah memanjatkan doa. Sebagian mengikuti tradisi keluarga. Ada pula wisatawan yang datang karena rasa penasaran terhadap sejarah dan cerita mistis.
Perbedaan tujuan ini membuat Gunung Kawi memiliki karakter yang kompleks.
Masyarakat Jawa sejak lama mengenal tradisi ziarah kepada leluhur atau tokoh yang mereka hormati. Mereka biasanya membawa bunga, berdoa, serta mengenang jasa tokoh tersebut.
Tradisi seperti ini tidak otomatis memiliki hubungan dengan pesugihan.
Gunung Kawi Kembali Ramai Dibicarakan pada 2026
Konten mengenai dugaan pesugihan di kawasan tersebut menyebar luas dan memicu berbagai reaksi.
Pemerintah juga ikut menanggapi perbincangan itu.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut kegiatan ziarah di Gunung Kawi sebagai bagian dari tradisi dan budaya lama. Ia melihat keberagaman tersebut sebagai bagian dari kehidupan budaya masyarakat.
Pernyataan tersebut kembali mengarahkan perhatian masyarakat pada sisi sejarah dan budaya Gunung Kawi.
Momentum itu juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memisahkan fakta sejarah, tradisi lokal, dan klaim mistis.
Cerita Mistis Tetap Menjadi Bagian dari Daya Tarik
Gunung, makam tua, pohon keramat, dan berbagai ritual menciptakan suasana yang mudah melahirkan legenda.
Cerita tersebut kemudian berkembang seiring waktu.
Setiap generasi dapat menambahkan tafsir baru. Media sosial bahkan membuat penyebaran cerita berlangsung jauh lebih cepat.
Namun, pembaca tetap perlu melihat kisah mistis secara kritis.
Cerita rakyat memiliki nilai budaya, tetapi cerita tersebut tidak selalu menggambarkan fakta yang dapat masyarakat buktikan.
Pendekatan seperti ini justru membuat pembahasan mengenai Gunung Kawi semakin menarik.
Kita dapat menikmati misterinya tanpa mencampurkan semua tradisi dengan klaim pesugihan.
Gunung Kawi Lebih dari Sekadar Cerita Pesugihan
Gunung Kawi menyimpan lapisan sejarah, budaya, tradisi, dan kepercayaan yang sangat panjang.
Pesarean Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono menjadi bagian penting dari sejarah kawasan tersebut. Tradisi 1 Suro juga terus menarik peziarah dan masyarakat.
Sementara itu, mitos pohon Dewandaru menambah warna dalam cerita rakyat yang berkembang di Gunung Kawi.
Stigma pesugihan memang belum sepenuhnya hilang. Bahkan, media sosial terus menghidupkan kembali perdebatan tersebut.
Namun, masyarakat sebaiknya tidak menyederhanakan Gunung Kawi hanya sebagai tempat mencari kekayaan secara mistis.
